Alasan Saya Menulis (Bag.1)

Menulis merupakan suatu kegiatan merangkai kata-kata untuk menjadi sebuah kalimat. Dan kalimat-kalimat tersebut akan berpadu satu sama lain, sehingga memberikan sebuah makna. Menulis sebenarnya hampir sama dengan berbicara. Hanya saja, terkadang seseorang mulai bingung ketika harus menulis apa yang harus ditulisnya.

Itulah mungkin salah satu hal yang menantang saya untuk menulis. Ketika banyak orang yang berbicara, tapi diri ini lebih tertantang untuk menulis. Entah karena sudah karakter diri atau sebuah hobi. Bagi saya, menulis adalah suatu bentuk ekspresi jiwa dan kegiatan yang mampu mengeluarkan segala isi hati, uneg-uneg, atau perasaan yang lainnya. Mungkin inilah beberapa alasan saya untuk menulis.

Pertama, Hobi. Sejak kecil, saya memang suka sekali menulis. Terutama menulis cerpen. Ketika masuk SMP, saya rajin sekali mengirim artikel atau cerpen ke majalah bulanan sekolah. Saat dimuat, ada sebuah perasaan bangga dan puas meski honor yang diterima tidak seberapa. Bagi saya, ketika tulisan kita dibaca oleh orang lain, maka mereka akan mendapatkan sedikit ilmu atau pencerahan dari sang penulis. Pernah sekali atau dua kali, saya juga mengirim opini atau artikel di koran dan dimuat di media tersebut.

Tak hanya itu saja, hobi menulis tersebut terbawa sampai ke SMA. Saat itu, saya mengikuti ekstra jurnalistik untuk semakin mengasah kelancaran saya dalam hal menulis. Tapi sayang, kegiatan itu tak berlangsung lama. Meski demikian, hobi saya masih tersalurkan melalui mading dan buletin sekolah. Saat masuk kuliah, hobi itu pun tak surut dan dapat berkembang. Ketika di bangku universitas, karya tulis yang dihasilkan lebih banyak bersifat ilmiah. Saya dan teman-teman seringkali mengikuti lomba karya tulis ilmiah yang diadakan di lingkup universitas atau yang lainnya.

Kedua, Potensi Diri. Saat memasuki dunia kerja, saya mendapatkan suatu ilmu baru. Ternyata setiap manusia yang terlahir di dunia ini mempunyai tipe kecerdasan majemuk pada dirinya. Mulai cerdas kata, cerdas angka, cerdas musik, sampai cerdas diri sekalipun, ada pada setiap diri manusia. Namun, tentu saja ada kecerdasan tertentu yang menonjol pada diri seseorang. Selama ini, banyak orang yang mengatakan bahwa saya cerdas kata. Padahal, saya tidak merasakan hal itu pada diri saya. Tapi ternyata, cerdas kata bukan berarti harus pandai berkata-kata secara lisan. Pandai dalam menuangkan isi pikiran dalam suatu tulisan juga termasuk ke dalam cerdas kata. Sejak saat itu, saya baru memahami bahwa seseorang yang pandai bicara, belum tentu piawai dalam menulis. Tapi ada juga seseorang yang tidak banyak bicara, namun karya tulis yang dibuatnya sungguh briliant dan mempesona. Meski tak dapat dipungkiri, beberapa orang juga jago dalam hal keduanya.

Bersambung Bagian 2 ya… ^_^

Leave a Reply